Eskalasi Selat Hormuz: Armada Kapal Induk AS Kepung Jalur Logistik Energi Iran

0
Ilustrasi Selat Hormuz. /Foto: istimewa

inventori.co.id – Stabilitas jalur distribusi energi dunia di Selat Hormuz kini berada dalam bayang-bayang konflik terbuka.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump telah mengerahkan gugus tempur kapal induk (Carrier Strike Group) ke kawasan tersebut, sebuah langkah yang disebutnya sebagai upaya menjaga keamanan internasional namun direspons keras oleh Teheran.

Komando Pusat AS (CENTCOM) secara resmi telah mengeluarkan peringatan kepada militer Iran terkait rencana latihan tempur tembak langsung yang akan digelar IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps) mulai Minggu esok.

Washington mendesak agar aktivitas militer Iran tidak mengganggu lalu lintas maritim di perairan internasional tersebut.

Armada Cantik dan Tekanan Logistik Militer

Dalam pernyataan terbarunya, Presiden Trump mengungkapkan bahwa kapal-kapal tempur paling kuat milik AS, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, tengah bergerak menuju posisi strategis.

“Ada armada yang sangat besar dan kuat sedang berlayar menuju Iran. Kami berharap tidak perlu menggunakannya, namun prioritas kami jelas: tidak boleh ada senjata nuklir,” tegas Trump, seperti dilansir Russia Today, Sabtu (31/1/2026).

Langkah ini dilakukan berbarengan dengan latihan kesiapan tempur Angkatan Udara AS (AFCENT) di Timur Tengah, yang difokuskan pada simulasi pengerahan cepat aset udara ke berbagai titik krusial di kawasan tersebut.

Ancaman Terhadap Jalur Komoditas Global

Iran membalas tekanan tersebut dengan retorika yang tidak kalah tajam.

Pejabat diplomatik Teheran menyatakan kesiapan militer mereka berada di level “200 persen” dan memperingatkan bahwa setiap provokasi akan dibalas dengan respons yang “tidak proporsional”.

Konfrontasi ini menimbulkan kekhawatiran serius bagi para pelaku industri global. Selat Hormuz merupakan chokepoint logistik paling vital di dunia, dengan catatan:

  • Sekitar 100 kapal tanker/dagang melintas setiap hari.

  • Menjadi jalur utama bagi 20% pasokan minyak dunia.

  • Gangguan di wilayah ini akan berdampak langsung pada biaya logistik dan inflasi energi global.

Fokus Keamanan Maritim

CENTCOM menegaskan bahwa mereka tidak akan menoleransi tindakan yang dianggap tidak profesional, seperti pendekatan kapal cepat Iran pada jalur tabrakan dengan kapal perang AS atau penggunaan senjata yang diarahkan pada pasukan koalisi.

Hingga saat ini, pelaku pasar komoditas terus memantau pergerakan kedua kekuatan militer ini.

Ketegangan di Selat Hormuz bukan lagi sekadar urusan geopolitik, melainkan ancaman nyata bagi keberlangsungan rantai pasok energi dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here