JAKARTA, inventori.co.id – Persija Jakarta mengambil sikap tegas terkait serangan rasisme yang menyasar salah satu aset pemain asingnya, Allano Lima.
Insiden yang terjadi melalui platform media sosial pascapertandingan melawan Persib Bandung, Minggu (11/1/2026) ini memicu reaksi keras dari manajemen Macan Kemayoran yang menilai tindakan tersebut mencederai profesionalisme industri olahraga.
Dalam pernyataan resminya, Persija mengategorikan rasisme bukan sekadar ejekan, melainkan bentuk kekerasan verbal yang dapat merusak ekosistem sepak bola nasional.
Manajemen Risiko: Perlindungan Mental Pemain
Manajer Persija, Marsekal Muda TNI (Purn) Ardhi Tjahjoko mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengaktifkan protokol dukungan moral dan psikologis bagi Allano.
Langkah ini diambil guna memastikan fokus dan produktivitas pemain tetap terjaga di tengah tekanan negatif dari oknum suporter.
“Persija berdiri sepenuhnya bersama Allano Lima. Klub memberikan dukungan penuh secara moral dan psikologis kepada pemain kami, serta memastikan ia tidak sendirian dalam menghadapi situasi ini,” ujar Ardhi dikutip dari persija.id pada Rabu (14/1/2026).
Pesan Profesionalisme dari Allano Lima
Di sisi lain, Allano Lima menunjukkan mentalitas profesional dengan tetap tenang menghadapi serangan tersebut.
Dia mengibaratkan dirinya sebagai “pohon yang berbuah lebat”, yang secara alami akan mengundang lemparan batu. Baginya, serangan ini justru menjadi indikator pertumbuhan kariernya di Liga Indonesia.
Allano memilih untuk tidak terdistraksi dan berkomitmen untuk kembali bekerja demi mencapai target-target klub di masa depan.
Urgensi Regulasi di Ruang Digital
Selain memberikan dukungan internal, Persija secara resmi mendesak operator liga, federasi (PSSI), dan para pemangku kepentingan lainnya untuk mengevaluasi pengawasan terhadap perilaku suporter di ruang digital.
Klub menekankan bahwa keberlanjutan industri sepakbola yang sehat sangat bergantung pada atmosfer yang aman dan suportif.
Persija juga mengecam segala bentuk ancaman dan ujaran kebencian yang ditujukan kepada elemen sepak bola lainnya, karena tindakan tersebut merusak marwah olahraga dan nilai kemanusiaan.
Melalui momentum ini, Persija Jakarta mengajak seluruh pihak untuk melakukan transformasi perilaku guna menciptakan iklim olahraga yang bersih dari diskriminasi.

