JAKARTA, inventori.co.id – Para pemimpin bisnis di negara-negara G20 kini menghadapi peta risiko yang semakin kompleks.
Perlambatan ekonomi masih menjadi kekhawatiran utama, namun ancaman baru dari sisi teknologi dan tekanan sosial mulai naik ke permukaan dan masuk dalam agenda strategis ruang rapat direksi.
Gambaran tersebut terungkap dalam Executive Opinion Survey 2025 yang dirilis World Economic Forum (WEF) bersama Zurich Insurance Group dan Marsh McLennan.
Survei ini melibatkan lebih dari 11.000 pemimpin bisnis dari 116 negara, termasuk negara-negara G20, dan memetakan risiko paling krusial dalam dua tahun ke depan.
Ekonomi Melambat, Kekhawatiran Tak Surut
Untuk tahun ketiga berturut-turut, perlambatan ekonomi menempati posisi teratas sebagai risiko paling mengkhawatirkan bagi pemimpin bisnis G20.
Risiko ini bahkan menjadi perhatian utama di enam negara anggota G20, termasuk Amerika Serikat dan Inggris.
Ketidakpastian pertumbuhan global, suku bunga tinggi, dan tekanan geopolitik dinilai masih membayangi stabilitas dunia usaha.
Risiko Sosial Menguat di Tengah Fragmentasi
Yang menarik, risiko sosial kini menempati posisi kedua dan ketiga dalam daftar lima besar. Layanan publik yang dinilai tidak memadai, lemahnya perlindungan sosial, hingga terbatasnya kesempatan ekonomi dan ancaman pengangguran menjadi sorotan serius.
Temuan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap fragmentasi sosial yang berpotensi memicu instabilitas jangka panjang.
Zurich Insurance Group menilai isu-isu sosial tidak lagi bisa dipandang sebagai tanggung jawab pemerintah semata.
“Pensiun dan kesehatan masyarakat kini telah menjadi isu strategis perusahaan. Di Eropa, jumlah penduduk usia produktif yang menopang satu pensiunan terus menurun, sementara lebih dari sepertiga warga Uni Eropa belum memiliki tabungan pensiun yang memadai,” jelas Alison Martin, CEO EMEA & Bank Distribution Zurich, dalam keterangan persnya, Selasa (16/12/2025).
“Kesenjangan ini berisiko menggerus kesejahteraan tenaga kerja dan stabilitas sosial,” imbuhnya.
Misinformasi dan Disinformasi Masuk Lima Besar
Untuk kali pertama, ancaman teknologi berupa misinformasi dan disinformasi masuk dalam lima risiko teratas, berada di peringkat kelima.
Para pemimpin bisnis menilai pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) berpotensi mempercepat perang informasi, memengaruhi proses pemilu, mengguncang pasar global, hingga mengancam keamanan siber dan infrastruktur vital.
Masuknya risiko ini menunjukkan bahwa tantangan digital tidak lagi terbatas pada efisiensi atau inovasi, tetapi telah bertransformasi menjadi isu strategis yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dan sosial.
Inflasi Turun Peringkat, Iklim Terpinggirkan
Inflasi, yang pada 2024 berada di posisi ketiga, kini turun ke peringkat keempat. Sementara itu, risiko peristiwa cuaca ekstrem yang tahun lalu masih masuk lima besar, tidak lagi muncul dalam daftar teratas tahun ini.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan baru tentang sejauh mana polarisasi sosial dan politik memengaruhi persepsi dunia usaha terhadap urgensi perubahan iklim.
Agenda Baru Pemimpin Bisnis
Hasil survei WEF ini menegaskan bahwa lanskap risiko global tengah bergeser. Tantangan ekonomi klasik kini berjalan beriringan dengan ancaman teknologi dan tekanan sosial yang kian nyata.
Bagi pemimpin bisnis G20, membangun ketahanan tidak lagi cukup dengan strategi finansial semata, melainkan juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat stabilitas sosial, kepercayaan publik, dan ketahanan digital di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.

