Debat Bantuan Bencana, Ternyata Bantuan Beras Belum Tepat untuk Darurat

0

Bencana besar di bagian Pulau Sumatra, khususnya di provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat termasuk yang terburuk di Sumatra dalam beberapa tahun terakhir.  Soal ramai perdebatan bantuan, aksi heroik kemanusiaan, ternyata ada beberapa yang perlu dikritisi. Bahawasanya pengiriman bantuan makanan belum siap saji belumlah tepat untuk penanganan tanggap darurat.

Menurut data, hingga 10 Desember 2025, korban meninggal akibat banjir dan longsor dilaporkan 969 jiwa. Proyeksi atau perkiraan biaya pemulihan pasca-bencana ini sendiri kabarnya melebihi Rp 50 triliun.

Berikut gambaran kebutuhan para warga dampak bencana.

Kebutuhan Situasi / Masalah Sekarang
Air bersih & sanitasi Banyak sumur/wells tercemar akibat banjir/longsor; di beberapa tempat penduduk terpaksa “mengandalkan satu sumber air” untuk mandi, cuci, dan BAB — kondisi ini sangat rawan penyakit. (plan-international.org)
Tempat penampungan / penampungan darurat (shelter) Ribuan keluarga kehilangan rumah atau rumah rusak berat; banyak pengungsi tidur di lantai dingin tanpa alas, selimut, tikar. (plan-international.org)
Perlindungan khusus untuk wanita, anak-anak, dan kelompok rentan Di lokasi pengungsian: kurangnya ruang privasi, sanitasi dan fasilitas kebersihan, serta kurangnya pakaian dan perlengkapan dasar. (Antara News)
Bahan pangan & logistik bantuan Banyak wilayah terisolasi — akses makanan dan suplai dasar sulit karena jembatan/ jalan putus, listrik padam, distribusi terganggu. (Jakarta Daily – Indonesia News Portal)
Layanan medis & kesehatan Risiko sakit dan cedera tinggi — karena air kotor, sanitasi buruk, trauma fisik & mental; serta kebutuhan obat, bantuan medis, terutama di lokasi terpencil. (Jakarta Daily – Indonesia News Portal)
Akses & transportasi — jalan, jembatan, komunikasi Banyak akses putus, jembatan ambruk — hal ini menyulitkan distribusi bantuan dan evakuasi. (bnpb.go.id)

Beras Belum Tepat untuk Tanggap Darurat

Mengirimkan bantuan beras saat bencana sering dianggap kurang tepat bukan karena beras tidak penting, tetapi karena dalam kondisi darurat beras tidak langsung dapat dikonsumsi dan justru menambah beban logistik. Untuk mengonsumsi beras, pengungsi membutuhkan: air bersih, peralatan memasak, bahan bakar (gas, kayu, minyak), kondisi tempat tinggal yang memungkinkan memasak. Dalam banyak bencana — termasuk banjir di Sumatra — air bersih langka, kompor hilang/rusak, tidak ada LPG/kayu bakar, dan tempat tinggal tidak layak untuk memasak. Akhirnya beras menumpuk dan malah tidak bisa dimakan.Mengirimkan beras bukan bantuan yang salah, tetapi tidak tepat untuk tahap darurat karena: tidak bisa langsung dikonsumsi, butuh air & bahan bakar, beban logistik besar, pengungsi tidak semua bisa memasak. Beras ideal diberikan pada fase pemulihan, bukan fase tanggap darurat. Dapur umum lebih efisien daripada membagi beras. Dapur umum juga meminimalkan kebutuhan air dan bahan bakar di tingkat keluarga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here