JAKARTA, inventori.co.id – Indonesia bersiap mendorong lompatan kualitas bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui Standar Nasional Indonesia Global Gotong Royong (SNI G2R) Tetrapreneur.
Inisiatif ini tidak hanya sekadar standarisasi, melainkan sebuah model yang secara visioner mengubah semangat gotong royong lokal menjadi mata uang ekonomi dan mutu yang diakui global.
Langkah ini menjadi penting di tengah tren pasar yang semakin menuntut jaminan kualitas dan integritas brand. SNI G2R Tetrapreneur diposisikan sebagai jaminan (assurance) bagi kemitraan bisnis kelas dunia, setara dengan standar internasional seperti ISO.
Mengatasi “Ketakutan Inovasi” di Level Desa
Founder sekaligus konseptor G2R Tetrapreneur, Rika Fatimah menyoroti tantangan terbesar yang dihadapi UMKM Indonesia, yakni minimnya inovasi dan kecenderungan membandingkan dengan yang sudah ada (existing).
“Masyarakat takut untuk memulai sesuatu yang belum ada (zero innovation – futuristik). Selalu membandingkan dengan yang existing sehingga kita tidak ke mana-mana,” ujar Rika Fatimah dalam Rapat Teknis 4 RSNI G2R Tetrapreneur, seperti dikutip inventori.co.id dari keterangan resminya, Sabtu (22/11/2025).
SNI G2R Tetrapreneur dirancang untuk memecahkan hambatan psikologis ini. Model ini mengajak pelaku usaha untuk berorientasi pada pencapaian visi dan misi jangka panjang guna memperkuat brand, alih-alih hanya berfokus pada penjualan semata.
Ini merupakan pergeseran paradigma dari pola pikir lokal ke pola pikir bisnis global yang mengutamakan mutu sebagai prasyarat kemitraan.
Hulu Desa, Kualitas Global: Kekuatan Kearifan Lokal
Inti dari G2R Tetrapreneur adalah keberlanjutan inovasi yang bersumber langsung dari kearifan lokal. Konsep ini memastikan bahwa hulu produksi berasal dari potensi desa/kawasan dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam, manusia, dan budaya secara optimal, tanpa merusak ekosistem keaslian.
Dengan demikian, standarisasi ini secara langsung mendukung kebijakan pemerintah dalam memberdayakan kelembagaan desa. Kualitas global tidak lagi berarti menghilangkan identitas lokal, tetapi justru menonjolkannya melalui inovasi yang terstruktur dan terukur.

Integrasi Sistem Mutu dan Kemitraan Strategis
Proses standarisasi ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Transmigrasi. Riska Tresia Sibuea dari Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi menekankan bahwa G2R Tetrapreneur memperkuat fondasi sosial-ekonomi masyarakat melalui kegiatan gotong royong.
Salah satu implementasi konkret yang didorong adalah pembentukan koperasi transmigrasi sebagai lembaga ekonomi baru yang mampu melahirkan local champions atau penggerak ekonomi kerakyatan.
Sementara itu, dari sisi teknis, Badan Standardisasi Nasional (BSN) melalui Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan, dan Penilaian Kesesuaian, Heru Suseno menitikberatkan pentingnya SNI G2R Tetrapreneur ditegaskan sebagai sebuah sistem mutu yang terstruktur.
“Harapannya G2R Tetrapreneur ini dapat ditegaskan sebagai sebuah sistem yang terstruktur, mencakup standar, mekanisme kerja, indikator, serta proses evaluasi dalam panduannya (SNI),” ungkap Heru.
Dengan penyesuaian birokrasi, di mana Sekretariat Komtek SNI G2R Tetrapreneur kini bernaung di bawah Kementerian Transmigrasi, proses finalisasi dokumen standar diharapkan dapat berjalan lancar. Ini menegaskan komitmen pemerintah untuk menjadikan G2R Tetrapreneur sebagai pergerakan ikonik global yang lahir dari nilai-nilai asli Indonesia.

