SIAK, inventori.co.id – Trauma kebakaran lahan hebat yang pernah melanda Kabupaten Siak pada 2014 memicu lahirnya inovasi teknologi dari tangan generasi muda.
Menjawab tantangan mitigasi bencana di wilayah yang 57 persennya adalah lahan gambut, tiga mahasiswa Politeknik Caltex Riau (PCR) berhasil mengembangkan Peatronics, sebuah sistem pemantauan tinggi muka air berbasis Internet of Things (IoT).
Inovasi yang digawangi oleh Aris Saputra Pasaribu, Artika Azzarah Ahmad, dan Amanda Putri Kinanti ini dinobatkan sebagai salah satu inovasi terbaik dalam ajang bergengsi Siak Innovation Challenge (SIC) 2025 yang puncaknya digelar pekan ini.
Teknologi Cerdas di Wilayah ‘Blind Spot’
Keunggulan utama Peatronics terletak pada kemampuannya menembus keterbatasan infrastruktur. Menggunakan jaringan nirkabel LoRa (Long Range), alat ini mampu mengirimkan data kondisi gambut secara real-time dari wilayah terpencil yang minim sinyal seluler sekalipun.
“Teknologi ini dirancang untuk menjangkau area yang sangat jauh. Peatronics tidak hanya memantau, tetapi memberikan peringatan dini. Data dikirim ke web dashboard dengan status: aman, waspada, atau kering. Jika air turun di bawah batas aman, sistem langsung memberi peringatan,” jelas Aris Saputra Pasaribu, ketua tim pengembang, dikutip dari siaran pers Innovation Challenge 2025, Kamis (20/11/2025).
Dengan sensor presisi, Peatronics menjadi ‘mata’ digital yang menjaga kelembaban gambut—kunci utama mencegah gambut menjadi bahan bakar yang mudah terbakar saat musim kemarau.
Siak Menuju Kabupaten Hijau
Kemenangan Peatronics bukan sekadar prestasi akademik, melainkan simbol transformasi Siak menuju pembangunan berkelanjutan. Dalam Festival Inovasi Lestari yang berlangsung di Gedung Kesenian Siak pada 16–18 November 2025, inovasi ini menyisihkan 94 ide lainnya yang masuk tahap kurasi.
Wakil Bupati Siak, Syamsurizal, menegaskan bahwa SIC 2025 adalah langkah strategis daerah. “Ini adalah upaya mempercepat transformasi menuju Siak sebagai kabupaten hijau yang tangguh. Inisiatif anak muda ini membuktikan bahwa kelestarian lingkungan dan teknologi bisa berjalan beriringan,” ujarnya.
Kepala Bapperida Siak, Budhi Yuwono, turut mengapresiasi daya kreasi para finalis. “Kami membersamai orang-orang muda ini untuk terus berinovasi demi bumi yang lestari,” tegasnya.
Bukan Hanya Teknologi, Tapi Pangan dan Budaya
Selain isu lingkungan, Siak Innovation Challenge 2025 juga menyoroti ketahanan pangan dan kearifan lokal. Dua inovasi lain yang turut menyabet gelar terbaik adalah:
-
Mangalo FortiRice (Pangan Berkelanjutan): Tim yang terdiri dari Lady Asia, Fahira Anggraini, dan Rahyu Zulaika menciptakan beras analog berbasis singkong yang difortifikasi dengan tepung bonggol pisang. Memanfaatkan limbah pertanian, inovasi ini menawarkan solusi pangan rendah gula sekaligus mengangkat potensi lokal Suku Sakai.
-
Archiscape (Wisata Aroma Melayu): Mengusung tema Harmoni Aroma Melayu, tim Archiscape (Remiya Samantha, Doksa Safira Tarigan, Melly Erviani) merancang konsep wisata edukatif berbasis aroma bunga herbal khas Riau. Ini menjadi strategi baru pelestarian budaya Melayu Siak yang dipadukan dengan pemberdayaan UMKM.
Ekosistem Kolaborasi yang Tumbuh Subur
Festival ini menjadi bukti bahwa ekosistem inovasi di Siak telah terbentuk matang. Kolaborasi lintas sektor terlihat nyata dengan keterlibatan komunitas kreatif seperti Haha Hihi Media, Exploresiak, dan SKELAS (Sentra Kreatif Lestari Siak). Sejak 2021, SKELAS telah menjadi inkubator bagi lebih dari 30 UMKM lokal.
Dukungan juga datang dari sektor swasta yang menerapkan prinsip ekonomi lestari, seperti PT Alam Siak Lestari (ASL) yang mengolah produk turunan ikan gabus dan nanas, serta Pinaloka yang memberdayakan perempuan melalui pengolahan nanas grade B dan C menjadi produk bernilai tambah.
Siak Innovation Challenge 2025 mengirimkan pesan kuat: tantangan perubahan iklim dan pelestarian gambut tidak bisa diselesaikan sendiri. Dibutuhkan paduan antara riset akademis, kearifan lokal, semangat anak muda, dan kebijakan pemerintah yang suportif.
“Harapannya penelitian awal ini bisa dilanjutkan dan benar-benar digunakan secara luas,” tutup Artika Azzarah, menyuarakan optimisme generasi muda Riau untuk masa depan gambut yang bebas asap.

