Transisi Hijau: Tiga Anak Muda Gagas Aksi ‘Berani’ lewat Belajar, Nikah, dan Nongkrong

0

JAKARTA, inventori.co.id – Mitos tentang generasi muda sebagai ‘generasi rebahan’ kembali terpatahkan. Tiga pemuda dari Jabodetabek membuktikan bahwa perubahan signifikan menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan tidak harus dimulai dari aksi besar, melainkan dari langkah-langkah inovatif yang dekat dengan keseharian: di ruang belajar, dalam ikatan pernikahan, hingga di meja nongkrong.

Gagasan segar ini muncul dari Ministry of the Future Fellowship, sebuah program perdana yang diinisiasi oleh Mindworks Lab. Program intensif selama tiga bulan ini menyeleksi 15 fellow dari ratusan pendaftar dengan beragam latar belakang untuk merancang rencana aksi nyata dalam mendorong transisi hijau sebagai respons terhadap tantangan krisis iklim.

“Para fellow diharapkan akan meneruskan aksi mereka, sambil menjaring orang muda lain untuk juga engage dalam kegiatan mereka, agar bersama-sama mewujudkan masa depan yang lebih berkeadilan,” kata Aulia Amanda Santoso, Program Coordinator Ministry of the Future, dalam keterangan resmi Mindworks Lab, Senin (10/11/2025).

Fokus dialog terbagi dalam lima bidang—mobilitas, lingkungan binaan, pendidikan, konsumsi, dan pangan—tetapi semangatnya tetap tunggal: menggerakkan orang muda agar terlibat aktif.

Inilah tiga gagasan paling orisinal yang berani menjawab tantangan masa depan.

Alya Eka Khairunnisa: “City Bingo” Modifikasi Study Tour Jadi Kelas Krisis Iklim

Kebijakan pelarangan study tour di beberapa wilayah, seperti Jawa Barat, dianggap membatasi ruang belajar siswa di luar kelas. Alya Eka Khairunnisa melihat ini sebagai peluang untuk memodifikasi konsep perjalanan belajar agar lebih aman, terjangkau, dan bermakna.

“Larangan ini menciptakan jarak antara siswa dan realitas sehari-hari. Masalah sosial dan lingkungan banyak berkembang. Tapi, pembelajaran di ruang kelas kurang fleksibel, kurang adaptif, dan kurang responsif terhadap masalah nyata,” ujar Alya, seperti tertera dalam rilis Mindworks Lab.

Melalui programnya, Kota Kita, Kelas Kita, Alya mengajak siswa merancang sendiri perjalanan keliling kota menggunakan transportasi publik untuk mengenali masalah lingkungan dan sosial di sekitar mereka.

Dalam uji coba di Tangerang, siswa diajak berkeliling ke pasar, taman, dan museum. Temuan menarik muncul dari modul permainannya yang disebut City Bingo. Permainan ini menantang peserta untuk menemukan objek tertentu selama perjalanan, termasuk mengidentifikasi kendaraan listrik.

“Awalnya, mereka berpikir bahwa kendaraan ini merupakan solusi yang baik, karena tidak menyebabkan polusi udara. Tapi, kami lalu berdiskusi, bahwa bahan bakunya ternyata masih berasal dari fosil, sehingga polusi sebenarnya hanya berpindah tempat,” cerita Alya. Siswa bahkan mampu mengindikasikan perubahan cuaca ekstrem dalam satu hari (panas-hujan-panas) sebagai akibat nyata dari krisis iklim.

Ndaru Luriadi: Janji Nikah, Janji untuk Bumi Lewat Sekolah Rumah Lestari

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menyebutkan bahwa 50,8% dari total sampah nasional pada 2024 berasal dari rumah tangga menjadi keresahan utama Ndaru Luriadi. Ia menyoroti fenomena di Depok, di mana lebih dari 500 ton dari total 1.000 ton sampah harian yang diangkut ke TPA adalah sampah rumah tangga.

Ndaru mencatat, sekitar sembilan ribu pasangan menikah di Depok pada 2023. Setiap pernikahan baru berarti munculnya potensi kerentanan timbulnya sampah rumah tangga baru.

“Seharusnya peran orang muda tidak berhenti ketika mereka menikah dan berkeluarga. Justru, di situlah titik penting untuk mengubah hal yang mungkin sering kita anggap sepele,” tutur Ndaru, yang berpengalaman di organisasi lingkungan dan kepemudaan, seperti dikutip dari keterangan resmi Mindworks Lab.

Untuk mengatasi isu sampah dari akarnya, yakni keluarga, Ndaru menggagas Sekolah Rumah Lestari. Program ini berfokus pada pembekalan pengetahuan dan keterampilan pengelolaan sampah bagi pasangan pengantin baru. Ndaru memandang, fase awal pernikahan adalah momen yang tepat untuk membentuk budaya positif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“Harapannya, keluarga-keluarga muda itu akan membentuk jaringan, agar bisa melakukan aktivitas positif yang berdampak untuk lingkungan,” imbuh Ndaru. Dengan demikian, pasangan muda ini diharapkan menjadi penggerak budaya di komunitas, misalnya menggeser kebiasaan belanja impulsif menjadi budaya yang lebih melestarikan lingkungan.

Anastasia Dinda Ciptaviana: Nongkrong Produktif, Mengubah Konsumsi Berlebihan

Setiap kumpul-kumpul (nongkrong) seringkali identik dengan sesi makan-makan yang berakhir pada tumpukan sampah dari pesan antar dan peningkatan emisi karbon. Isu konsumsi berlebihan atau mindless consumption inilah yang coba diubah oleh Anastasia Dinda Ciptaviana.

Dinda merancang Nongkrong+, sebuah proyek yang bersifat personal bagi dirinya yang memiliki karakter introvert. “Lewat Nongkrong+, orang muda bisa menjalin pertemanan sambil membahas isu konsumsi berlebihan… dengan kegiatan yang seru dan santai,” cerita Dinda, yang berlatar belakang desain.

Nongkrong+ yang digagas Dinda bukan hanya sekadar duduk dan berdiskusi. Kegiatan ini lebih produktif, contohnya adalah Nongkrong+ Nukang.

“Saat itu kami jadi sadar bahwa kami punya kemampuan, lho, meskipun nukangnya masih di level dasar. Tapi, ada hasilnya. Memproduksi sesuatu sendiri membuat kami jadi mampu mengapresiasi benda tersebut,” jelas Dinda, seperti tertera dalam rilis pers Mindworks Lab.

Ia berkeyakinan bahwa nongkrong tidak harus selalu konsumtif, dan kegiatan produktif tetap dapat menumbuhkan pertemanan yang mendalam. Dinda berharap, diskusi tentang budaya konsumsi bisa menjadi bagian dari keseharian dalam lingkungan pertemanan.

“Meski sesuatu itu mungkin terlihat kecil, jika dilakukan secara rutin dan sering, saya yakin dampaknya akan kuat, bisa mengubah masa depan budaya konsumsi,” tutup Dinda.

Alya, Ndaru, dan Dinda membuktikan bahwa gerakan transisi hijau dapat berakar dan bersemi dari ruang paling intim: cara belajar, cara berkeluarga, dan cara berteman. Pesannya jelas, masa depan bumi kini juga ditentukan oleh keberanian anak muda untuk bergerak dan mewujudkan perubahan, satu per satu, di ranah personal mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here