LBH GP Ansor Dumai Geram! Tindakan Arogan Keamanan Masjid DIC Dinilai Lukai Nilai Islam

0
Roni Iriandani SH dari LBH GP Ansor Kota Dumai. /Foto: dok. pribadi

DUMAI, inventori.co.id — Masjid Agung Habiburrahman atau Dumai Islamic Center (DIC) dikenal sebagai ikon kebanggaan Kota Dumai dengan arsitekturnya yang megah.

Sayangnya, kemegahan tersebut kini terganjal sorotan tajam setelah beredar luasnya video viral yang memperlihatkan insiden penertiban pedagang asongan oleh petugas keamanan masjid.

Video tersebut merekam petugas keamanan yang tampak memberikan teguran keras kepada pedagang. Meskipun pihak keamanan berdalih telah berulang kali menasihati agar tidak berjualan di area terlarang, insiden tersebut memicu perdebatan publik tentang etika penertiban.

LBH GP Ansor Kota Dumai: Masjid Bukan Tempat yang Menakutkan

Menyikapi polemik ini, Gerakan Pemuda Ansor Kota Dumai melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH)-nya, menyatakan keprihatinan mendalam. Mereka secara tegas menyayangkan dan mengkritik dugaan tindakan “arogansi” yang dilakukan oknum keamanan di salah satu pusat syiar Islam terbesar di Riau itu.

Roni Iriandani SH, dari LBH GP Ansor Kota Dumai menyoroti filosofi dasar masjid. Menurutnya, rumah ibadah adalah “Rumah Tuhan” dan “tempat perlindungan bagi umat Islam”, bukan institusi yang menimbulkan ketakutan.

“Islam itu Rahmatanlilalamin (rahmat bagi semesta alam), Islam itu agama kasih sayang bukan agama pemarah. Jangan sampai orang takut untuk kembali ke rumah Tuhan,” kata Roni dalam keterangan resminya, Rabu (29/10/2025).

Lebih lanjut, Roni menyebut bahwa tindakan penertiban yang kaku dan arogansi adalah “tindakan kuno” yang sudah tidak lagi relevan, apalagi di tengah era ekonomi serba sulit saat ini.

Desakan Solusi: Keadilan, Lapak Baru, dan Pelatihan Humanis

LBH GP Ansor Dumai mendesak pengelola DIC untuk memastikan penertiban dilakukan seadil-adilnya. Hal ini mencakup larangan berdagang di teras masjid yang harus diterapkan tanpa pandang bulu terhadap jenis dagangan apapun.

Namun, di sisi lain, Roni mendesak solusi yang lebih humanis bagi masyarakat kecil.

  • Penyediaan Lapak: Pengelola dan Pemkot Dumai didesak untuk menyediakan lapak atau tempat khusus yang layak bagi para pedagang asongan.
  • Pendekatan Persuasif: Penertiban harus didahului dengan arahan dan komunikasi yang baik.

Roni juga mendesak Pemerintah Kota (Pemko) Dumai untuk turun tangan, terutama dalam meningkatkan kualitas SDM pengelola masjid.

“Pemkot harus memberikan pelatihan-pelatihan manajemen masjid agar pengurus DIC bisa lebih bersahabat dan humanis kepada pengunjung dan masyarakat sekitar,” tegas Roni.

Harapannya, pendekatan yang lebih ramah akan menjadikan Masjid DIC sebagai pusat yang nyaman dan menarik, sehingga masyarakat lebih termotivasi untuk datang dan beribadah salat berjemaah di sana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here