
JAKARTA, inventori.co.id – Di tengah gempuran drama romantis yang serba ideal, serial Tiongkok “Love’s Ambition” hadir dengan narasi yang lebih realistis dan menusuk.
Drama ini dengan berani mengupas tuntas sisi gelap dari pernikahan yang dibangun di atas fondasi kerentanan dan kebohongan, dibintangi oleh dua aktor papan atas, Zhao Lusi dan William Chan.
Zhao Lusi memerankan Xu Yan, seorang wanita yang memiliki segalanya—karier cemerlang, gaya hidup glamor, dan suami ideal, Shen Haoming (William Chan). Namun, di balik fasad yang sempurna itu, Love’s Ambition memperlihatkan kehancuran batin Xu Yan.
Bukan Sekadar Perselingkuhan, Ini Krisis Identitas
Kisah Xu Yan berbeda dari konflik drama biasa. Kehancuran rumah tangganya berakar pada krisis identitas yang mendalam. Dia membawa luka masa lalu, tumbuh dengan keyakinan bahwa dia harus menjadi sempurna agar layak dicintai.
Ketakutan inilah yang mendorongnya menciptakan persona ideal—sosok yang lembut, berpendidikan, dan selalu terkendali—saat bertemu Haoming.
Zhao Lusi berhasil menampilkan kompleksitas ini dengan acting yang subtle: senyumnya terasa berat, tatapannya penuh kecemasan, dan keheningannya terasa lebih bermakna daripada dialog panjang.
“Xu Yan mencintai Haoming sepenuh hati, namun ia tidak pernah benar-benar mencintai dirinya sendiri,” demikian analisis yang muncul dari serial ini.
Kebohongan yang awalnya lahir dari rasa takut kehilangan, pada akhirnya menjadi dinding yang memisahkan mereka. Drama ini menunjukkan bahwa di tengah ambisi untuk membuktikan diri, Xu Yan justru kehilangan kejujuran terhadap pasangannya dan dirinya sendiri.
Cinta Modern vs. Kebutuhan Pembuktian Diri
“Love’s Ambition” menyajikan potret wanita modern yang ambisius sekaligus rapuh. Ambisi Xu Yan bukan hanya untuk sukses secara finansial, melainkan kebutuhan mendesak untuk membuktikan nilainya, menantang penilaian dunia terhadap latar belakangnya. Ia ingin berdiri sejajar dengan suaminya yang berstatus tinggi.
Konflik yang diperankan Zhao Lusi dengan William Chan terasa otentik. William Chan sebagai Shen Haoming juga dipaksa berhadapan dengan egonya sendiri, harus belajar memahami bahwa perjuangan dan kerentanan pasangannya bukanlah ancaman, melainkan bagian dari cinta yang harus dia hargai.
Kejujuran sebagai Awal yang Baru
Poin paling menarik dari drama ini adalah resolusinya. “Love’s Ambition” tidak berakhir dengan perpisahan tragis atau kebahagiaan klise. Perceraian yang nyaris terjadi justru menjadi titik balik krusial.
Drama ini menunjukkan bahwa cinta sejati dapat tumbuh kembali dari kejujuran, bukan dari kesempurnaan. Xu Yan belajar mengakui lukanya tanpa merasa kalah, sementara Haoming belajar untuk menurunkan gengsinya.
Pasangan ini tidak kembali menjadi pribadi yang sama, melainkan dua individu yang lebih dewasa, berani mencintai tanpa menghilangkan jati diri.
Melalui perjalanan Xu Yan, serial ini mengajarkan bahwa keberanian sejati bagi seorang wanita modern adalah memilih dirinya sendiri tanpa harus kehilangan cinta, sementara bagi pria, kelembutan bukanlah kelemahan, melainkan fondasi untuk pemahaman yang lebih dalam.
Tonton sekarang, saksikan kisah cinta yang realistis dan penuh emosi dari Zhao Lusi dan William Chan di Love’s Ambition, tayang eksklusif di Viu.
