Tim TMMD 103 Ajak Pelajar SMA Sejahtera Satu Tolak Paham Radikalisme

Depok, inventori – Puluhan pelajar SMA Sejahtera Satu di Jalan Nusantara, Kelurahan Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, diingatkan untuk waspada terhadap akan adanya pihak dan kelompok tertentu yang mencoba menyebarkan ajaran dan paham radikalisme.

Karenanya mereka diajak untuk bersama-sama menangkal dan menolak paham radikalisme tersebut dengan diberikan penyuluhan dan pemahaman mengidentifikasinya.

Penyuluhan terkait radikalisme yang dirangkai dengan pembinaan mental kejuangan bagi pelajar ini digelar di aula Sekolah dalam giat sasaran non fisik TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) di Depok.

Narasumber yang dihadirkan diantaranya Perwira Bintal Kodam Jaya Kapten Inf Agung Bintoro serta dari Polresta Depok AKP Elly Padiansari.

Pengawas giat non fisik TMMD ke 103, Kapten Kav Syahroni mengatakan dengan kegiatan ini diharapkan pelajar dapat memahami bentuk paham radikalisme yang mesti dicegah dan ditolak.

Sebab paham itu jelas bertentangan dengan ideologi bangsa Indonesia.

“Kalangan pelajar adalah salah satu yang sangat rawan dijerat paham radikalisme. Dengan pemahaman yang kami berikan ini diharapkan mereka dapat menolak paham itu dan mampu mencegah penyebarannya lebih jauh,” kata dia.

AKP Elly Padiansari, dalam penyampaian materinya mengajak pelajar tetap berpegang teguh kepada Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideologi berbangsa untuk menjaga persatuan dan kesatuan.

“Hal ini perlu ditekankan lagi karena saat ini ada pihak yang ingin mengganti ideologi bangsa kita dengan paham lain. Sebab bangsa Indonesia mulai diserang dari berbagai sisi agar kita terpecah belah dan akhirnya hancur,” kata dia.

Bentuk serangan itu katanya melalui Ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan. “Termasuk paham radikalisme yang merusak itu,” katanya.

Karenanya Elly, mengajak para pelajar menguatkan iman dan berpegang pada ajaran agama masing-masing, sebagai langkah utama menangkal radikalisme.

“Ada kekuatan negara Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain. Yakni kekayaan sumber daya alam, serta keberagaman adat dan suku. Semua ini mesti dijadikan oleh para pelajar dan anak muda sebagai generasi bangsa untuk membuat Indonesia menjadi negara maju ke depannya,” kata dia.

Karenanya ia meminta para siswa dengan berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 45.

Sementara itu, Kapten Inf Agung Bintoro dalam kesempatannya mengajak pelajar mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa dengan cara menjaga nilai positif di masyarakat, diantaranya gotong-royong. Sehingga timbul kebersamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan dan keamanan.

Dari sana kata dia akan menampilkan persatuan dan kesatuan yang cukup efektif menangkal paham radikalisme

“Jadi nilai-nilai positif dan norma di masyarakat kita itu harus dipertahankan dan jangan sampai pudar. Sebab perkembangan teknologi dapat membuat nilai dan norma itu pudar. Akibatnya orang cenderung cuek terhadap lingkungan dan rasa persaudaraan lemah,” katanya.

Jika sudah begitu kata dia kewaspadaan atas paham radikal menghilang tanpa disadari dan akibatnya paham berbahaya masuk ke sekeliling kita dan orang-orang di dekat kita.

Beberapa cara menangkal radikalisme kata Agung diantaranya dengan memperkenalkan ilmu pengetahuan secara baik dan benar.

“Bagaimana pelajar menggunakan smartphone dengan benar, mesti dipahami. Bisa dipakai dengan ikut mensosialisasikan bahaya radikalisme dengan mengikuti perkembangan dan isu kekinian yang valid di Medsos,” katanya.

Cara-cara ampuh lainnya untuk menangkal paham radikalisme kata dia yaitu dengan rajin beribadah, menghormati orang tua, menghindari perbuatan tercela, tidak mudah terpengaruh dengan isu di Medsos, dan tidak mudah terpengaruh dengan ajakan yang menentang Pancasila. “Serta terus menjaga persatuan dan kesatuan NKRI dengan meningkatkan gotong royong,” kata dia.

Disamping itu, tambah Agung cara penyebaran radikalisme bisa dilihat dan diidentifikasi melalui adanya kegiatan keagamaan yang bersifat tertutup atau inklusif.

“Mereka juga mempengaruhi melalui media internet dan medsos. Oleh karena itu, pengaruh media sosial dapat menimbulkan kerentanan terhadap perkembangan dan pola pikir generasi muda jika para pelajar tidak dibekali pengetahuan dan pemahaman yanh baik. Untuk itu kita harus waspada terhadap berita-berita hoax dan menyesatkan,” katanya.

(Minggus)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.