Penyuluhan Satgas TMMD 103, Pelajar Dan Masyarakat Antisipasi Perang Proksi

Depok, inventori – Perang proksi atau perang tanpa bentuk dengan menggunakan pihak ketiga, menjadi perhatian saat giat program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 103 di Depok dengan sasaran non fisik memberi penyuluhan kepada puluhan pelajar SMA Sejahtera 1, di Jalan Nusantara, Depok Jaya, Pancoran Mas, Kota Depok, Jumat (26/10/2018).

Hal itu setelah salah seorang siswa menanyakan apa yang dimaksud dengan proxy war, bentuknya serta cara menghadapinya.

Hal itu di jawab Danramil 02/Beji, Kodim 0508/Depok Kapten Kav Syahroni selaku pengawas giat TMMD ke 103 di Depok, ia membeberkan secara gamblang apa yang dimaksud dengan proxy war, secara cukup sederhana.

“Proxy war merupakan perang dengan menggunakan pihak ketiga untuk melemahkan musuh dengan berbagai cara dan bentuk. Ini harus menjadi perhatian kita bersama, karena Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam,” kata Syahroni.

Menurutnya, dalam proxy war seringkali negara yang disasar tidak merasakan sedang dalam serangan perang proksi itu. “Misalnya potensi perpecahan diantara kita, sangat mungkin itu bagian proxy war. Seperti yang pernah terjadi di masa penjajahan dimana kita dipecah belah lalu dengan mudah ditaklukan,” kata dia.

Karenanya Syahroni meminta pelajar untuk bersama-sama saling mengingatkan kepada semua masyarakat agar tetap waspada, dengan tetap berpegang teguh pada Pancasila dan UUD 1945,” katanya.

Dalam menghadapi proxy war ini katanya sangat penting terutama bagi pelajar untuk bersikap cerdas dan waspada dalam melihat dan menilai semua peristiwa.

Sebab aneka konflik global yang disulut oleh perang proksi bisa saja merembet ke Indonesia jika kita tidak waspada dan membentengi diri dengan pengetahuan yang komprehensif atas fenomena perang modern tersebut.

Sebab perang proksi justru tidak dilakukan melalui kekuatan militer, melainkan perang melalui beragam aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, baik melalui aspek sosial budaya, politik, ekonomi serta hukum dan lewat perkembangan teknologi.

“Jadi pembentukan karakter dan etos kerja yang berwawasan kebangsaan, dapat menjadi benteng yang tangguh untuk melawan dan mengantisipasi Proxy War di era globalisasi saat ini,” katanya.

Indikasi perang proksi menurutnya bisa terdeteksi dengan adanya gerakan-gerakan separatis, radikalisme beraliran kiri maupun kanan, gerakan demonstrasi yang didesain anarkis, pemberitaan media yang provokatif, tawuran pelajar, konflik horisontal termasuk kedalamnya peredaran narkoba, penyebaran pornografi, pornoaksi dan sex bebas hingga gerakan LGBT.

“Karenanya untuk mengenali gejala perang proksi dewasa ini, tentu diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang cukup serta wawasan yang baik,” ujarnya.

Yang terpenting kata dia, kewaspadaan kita dari dalam untuk membentengi diri dari setiap upaya membenturkan kepentingan berbagai golongan di masyarakat, sangat diperlukan.

“Salah satunya dengan tidak mudah termakan oleh isu-isu provokatif, baik yang beredar di dunia nyata maupun berita atau informasi yang beredar di dunia maya, terutama media sosial,” tuturnya lagi.

Untuk itu mesti dikembangkan budaya klarifikasi agar tidak mudah digiring oleh opini yang menyesatkan atau hoax.

“Juga lakukan pengecekan menyeluruh atas informasi apapun yang kita terima sebelum menyimpulkan dan bersikap atas suatu isu dan kondisi,” ucap Syahroni.

Serta tambahnya membekali diri dengan kewaspadaan dan berani menolak dengan tegas apabila ada propaganda yang melenceng jauh dari cita-cita kemerdekaan dan kebangsaan kita.

“Serta menolak dengan tegas nilai atau faham baru yang keluar dari semangat yang miliki berdasar Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika,” ungkap Syahroni.

Karena itu, penting bagi kita semua untuk tidak bosan mengedukasi masyarakat dan saling mengingatkan atas ancaman perang proksi. “Agar keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetap terjaga,” jelas Danramil 02/Depok itu.

Kepala Humas SMA Sejahtera 1, Usep Kusnadi menyatakan sangat mengapresiasi acara penyuluhan Radikalisme dan Bintal Kejuangan dalam program TMMD ke 103 di Depok tersebut.

“Konten penyuluhan yang diberikan sangat baik dan sangat menambah wawasan pelajar. Kami harap apa yang telah dipaparkan dapat menjadi bekal siswa kami dalam melaksanakan tantangan dan tugas mereka sebagai generasi bangsa yang akan datang,” pungkas Syahroni.

(Minggus)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.