Cegah Hoax Sejak Dini, Bangun Budaya Literisasi Anak

Jakarta, inventori – Dalam rangka Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli 2018. Perkumpulan Skala, bekerjasama dengan Humas Perpustakaan Nasional, mengadakan diskusi dengan tema Membangun Budaya Literasi Anak-Anak, Melawan Hoax Sejak Dini.

Pada acara diskusi, Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando mengungkapkan, “Perkembangan teknologi informasi, memudahkan siapa saja mengakses informasi, begitupun dengan anak-anak, dengan mudahnya mereka memperoleh dan mengakses informasi melalui gawai yang selalu tergenggam dalam tangan, kemajuan teknologi juga memungkin anak-anak untuk berkreasi. Tetapi disisi lain, berbagai informasi dengan mudah diserap, entah itu informasi yang layak dikonsumsi, atau belum pantas untuk dibaca,” ujarnya dengan singkat.

Direktur Utama Balai Pustaka Achmad Fachrodji saat menerangkan makna Literisasi di acara diskusi di Gedung Perpustakaan RI Jakarta.

Melengkapi keterangan Kepala Puspernas, Direktur Utama BALAI PUSTAKA Achmad Fachrodji menuturkan, acara seperti ini perlu diseminasi (diperbanyak), agar para kaum milenial lebih banyak mencintai buku dan lebih mencintai l Astra, taman bacaan seluruh Indonesia, tuturnya.

Sementara pada kesempatan yang sama, Kabid Hukum dan Perencanaan Perpusnas RI Dr Joko Santoso mengungkapkan, “dari keluarga dan masyarakat masa kini dibangun sebuah instrumen satu lingkungan, suatu peristiwa tidak bisa diselesaikan dari sisi perusahaan sebagai penyedia informasi atau pengetahuan, tapi juga dari pelaku-pelaku yang ada di masyarakat.

Kabid Hukum dan Perencanaan Perpusnas RI Dr Joko Santoso bersama Direktur Utama Balai Pustaka Achmad Fachrodji saat berbincang di acara diskusi Membangun Budaya Literisasi Anak di Gedung Perpustakaan RI Jakarta.

Menurut Joko, Pendidikan penerbit penulis bagaimana menciptakan konten-konten yang positif, makin banyak konten positif setiap tahunnya, kami juga menyediakan bantuan untuk perpustakaan.

Joko menjelaskan, tahun ini aja kita membuat titik-titik transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial, selama ini sosialisasi yang dilakukan semacam forum yang dititrasi.

Dikalangan masyarakat peningkatan inklusi sebagai bentuk perencanaan setiap tahunnya. Kita ada program nasional tahun depan, yang dianggarkan bekisar hampir 150 miliar. Hal ini rencananya dijadikan satu tokoh nasional, untuk mempercepatan pengurangan kemiskinan dan peningkatan pelayanan dasar dan kesejahteraan sebagai tujuan Literisasi.

(Minggus)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.